Rabu, 28 Agustus 2024
Ketika Beranjak Dewasa
Selasa, 09 Januari 2024
Kunci Kehidupan
Rabu, 13 Desember 2023
Libatkan Allah Dalam Hidup
Berbagai drama terselesaikan atas izin Allah. Libatkan Allah dalam setiap apapun urusan di dunia, maka akan teratasi semua dengan baik. Coba saja!
Hari Sabtu, hari dimana super sibuk dari pagi buta hingga Minggu siang. Beragam masalah (kendala) bermunculan, membuat kepala berpikir lama untuk mengatur bagaimana baiknya, disela fisik pun juga terkuras dan dalam keadaan kurang sehat.
Mulai dari, memori HP yang sudah full harus beli memori lagi dengan kapasitas tinggi, memori kamera yang tertinggal di mess, buku yang niat baik untuk support tapi ternyata kurang, harus effort mengambil ke rute yang tidak sejalan, undangan pernikahan kawan lama dengan rute yang cukup jauh, cuaca yang berulang kali hujan-reda disertai gemuruh yang tak henti-hentinya menggelegar, menjemput yang akan tampil menari, dan ada kawan menghubungi terkendala motor.
Rencana awal berangkat pukul 14.00 tapi mundur 14.47 bada ashar. Berhenti di pom Sier dan sinyal trouble sehingga semua pengendara harus sabar menunggu sampai selesai diperbaiki. Alhasil, karena terlalu lama menunggu dan jaket bulu yang semakin membuat berkeringat di dalam akupun pergi. Berdoa semoga bensin mencukupi sampai pom selanjutnya.
Alhamdulillah, sampai pom sepanjang juga dengan jarum bensin sudah di dalam kotak merah. Tak berhenti sampai di situ, dompet bersih dengan tanpa ada sepeserpun, ya, hanya cukup untuk Pertamax 21.000.๐
Tim media dari sebuah komunitas mengundurkan diri dan juga koordinator, karena ada urgensi lain yang lebih utama.
Sepanjang jalan termenung, mengapa begitu sedrama ini Tuhan? Badan yang demam dan batuk yang belum kunjung hilang mengiringi sepanjang perjalanan menuju lokasi.
Sabtu, 31 Desember 2022
Keberanian Ada Dalam Diri
Seperti semut dan gula yang sedang kuamati ini. Awalnya berada di plastik yang terbuka lebar dan tersengat sinar matahari, lalu aku pindahkan ke dalam tempat yang lebih dalam dengan warna putih dan tidak semenyengat ketika berada di dalam plastik.
Aku miringkan wadah tersebut agar terkena sinar matahari dengan gula aku ratakan sampai ke ujung.
Aku amati beberapa menit, terlihat ada yang berputar-putar seakan mencari jalan keluar, ada yang bergerombol seakan berdisuksi gimana baiknya. Karena aku penasaran aku tusuk-tusuk memakai sendok, terlihat banyak yang bersembunyi di dalam gula, mungkin mereka pikir bagai surga mereka. Gula di dalam goa.
Aku tinggal dan aku tengok lagi ada yang sudah mencapai atas wadah dan berhasil. Alhamdulillah. Yang bergerombol di bawah tetap pada kelompoknya dan datang lagi pengikut baru yang tergabung. ๐Bagai ibu-ibu sedang bergosip saja.
Karena gemas melihat mereka tak ada pergerakan aku sentil pakai sendok plastik dan lariii!!๐
Aku coba ketok-ketok dari bawah wadah semua berhamburan, antara kaget, panik, atau bingung "Apa yang sedang terjadi!"
Ada yang berputar mengelilingi wadah, ada yang menuju ujung atas cahaya tapi kembali lagi turun ke bawah.
Ketika dentuman dariku sudah diam semua juga diam, seakan sudah tenang kembali dan memberi jeda untuk mereka bernapas.
Ada beberapa yang berdiam diri di ujung atas wadah, karena aku jengah mereka tak keluar-keluar padahal sudah dekat dengan jalan keluar. Akhirnya aku masukkan jari telunjuk dan menekan lembut, menggesekkan keluar. Alhamdulillah masih hidup.
Ada juga yang lari mengelingi dalam wadah, yang jelas belum ada yang setelah keluar lalu masuk kembali.
Kesimpulan:
Bukankah seperti itu manusia dengan kenikmatan?
Ketika sudah bertemu dengan yang disukai maka terlupa dengan apapun yang terjadi. Bahkan, tak sadar kalau masuk ke dalam jurang.
Bukankah Tuhan sudah memberi petunjuk?
Petunjuk seperti cahaya yang menyinari gula dan semut. Terserah mau menapai gundukan bukit atau dinding goa yang bisa saja tergelincir dan "bruk!"
Aku mengerti, ketika sudah mencapai ujung terasa sangat berat, bagai panas tersengat cahaya matahari. Sehingga, memunculkan keraguan untuk kembali turun dalam kegelapan tapi bersama kenikmatan yang semu.
Diamlah sejenak dan berdoa meminta keyakinan kepada Tuhan untuk melangkah menuju cahaya kehidupan.
Semoga bermanfaat๐ฑ
Senin, 12 Desember 2022
Drama Langit
Manusia yang merencanakan sedangkan Allah yang menentukan atas izin-Nya.
Ya, itulah kalimat yang tepat mengawali cerita ini. Cerita dimana merasa banyak sekali permasalahan yang terjadi, dari sebelum dan sampai selesai kegiatan.
Ujian dan masalah seringkali kusebut sebagai sebuah drama langit drama dari Allah. Sedangkan tipu muslihat manusia ya drama manusia.
๐Apa sih.... Langsung intinya aja dah!
Aku tipe manusia yang sudah membuat rencana dari jam segini sampai segitu melakukan ini dan itu, sampai di sana lalu ini-itu. Namun, kembali lagi manusia berencana Allah penentunya.
Ya, semua atas izin dan kehendak-Nya.
Tidak berjalan sesuai apa yang direncanakan. Uh, mengesalkan! So sad! Ingin teriak tapi tertahan oleh nikmatnya semilir angin yang menyeringai tubuh, cahaya mentari yang seakan memaksa untuk terus tersenyum di depan dan dihadapan manusia maupun kamera.
Terlebih ketika menghadapi seorang diri, seperti anak terlantar yang menunggu induk untuk dijemput pulang. Dalam kesendirian, dalam kegelapan menuju esok hari. Perbatasan antara shift bulan bintang dan matahari.
01.56 Spbu Ciwi, balongbendo
Melihatnya berjalan dengan dibantu tongkat tracking (seharusnya), dengan perlahan menuju rumah makan. Rasa kesal, menggerutu berubah menjadi rasa iba dan kesedihan.
Bagaimana tidak? Menjerit dalam diam, protes dan mengeluh pada Tuhan. Seakan sengaja dipermainkan semesta. Ah!
Tubuh, terutama perut yang sudah dua hari menahan dan terpaksa harus menahan kembali, menimbang langkah yang harus diputuskan.
02.37 terdengar jelas suara yang bertumpah, membuatku mual dan mengusap beberapa kali sudut netra.
65.000, bagiku besar di saat kondisi yang terjepit. Kecil bagi yang stabil lancar. Berkecamuk dan gaduh dalam kendaraan sembari tersorot oleh cahaya lampu restoran.
Aduh! Ini gimana? Tuhan, aku nggak tahan lagi! Tapi juga ngga bisa berdiam diri lama di sini. Help God!
Dalam tubuh yang bergemetar, dalam pikiran yang sedang menimbang, dalam kebimbangan mencari kecerahan menuju ujung jalan. Aku memutuskan, "Saya ke Masjid saja Pak!"
"Baik, saya antar sebagai penggantinya. Biar diantar oleh temannya, kembali pulang."
Dengan menahan isak suara aku mencoba menjawab dengan baik-baik saja.
Berpisah dengan saling mengucap maaf dan terima kasih, hanya itu yang dapat saling terucap dari lisan manusia.
Sekitar 10 menit perjalanan, sampailah di Masjid terdekat. Turun dan berpamitan sembari melangkah masuk dengan tertatih.
Baru merasakan dinginnya ubin adzan sudah terdengar jelas. Meletakkan sepatu, ransel, dan jaket untuk menutupi. Melangkah mengambil air wudhu dan masuk mengambil mukena, meninggalkan barang-barang di teras begitu saja, seakan sudah masa bodo dengan semua.
Di rakaat kedua sudah tak terbendung, menetes begitu saja membasahi kedua pipi yang tadinya mengering karena AC.
Kewajiban sebagai hamba telah selesai, aku yang sudah begitu lelah seakan bergumam, "Terserah Tuhan saja!"
Kembali menuju teras, duduk, mengambil jaket, dan terlelap dalam dinginnya udara murni.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu dengan harapan kepastian sudah datang.
Tangis haru mengiringi perjalanan. Ya, dengan masih menahan sembari merenung dalam perjalanan.
Cukup jauh juga rupanya menuju Purabaya, pantas saja bila mahal dan tak ada yang mau bernegoisasi.
๐ Entah aku yang keterlaluan karena keegoisan ataukah memang keadaan yang membuatku memaksa egois dan tercapai.
Ambil motor dan ya lagi-lagi meminta bantuan. Mau gimana lagi keadaan.๐
Alhamdulillah wa syukurilah, sampai juga di hunian yang aku bisa leluasa meluruskan tubuh begitu saja. Acuh dengan sinar mentari yang menyongsong bumi ini, yang jelas aku butuh kegelapan untuk merebahkan sekujur tubuh yang sudah terlalu lama menahan.
Sekitar pukul 09.00 baru sanggup menyapa mentari dengan me-recovery tubuh, mengisi dengan bahan pokok utama.
Alhamdulillah.
๐ฑ Siapapun pasti akan kesal dan mendumel ketika apa yang sudah dijadwalkan secara detail berubah di luar ekspektasi. Ya, manusia ingin hasil yang perfeksionis, tapi Tuhan mempunyai perfeksionis versi-Nya sendiri.
Bisa jadi, selama berlibur terlalu hanyut dalam kenikmatan dunia yang fana, sehingga Tuhan merindu untuk diseru dalam setiap hembus napas kita.
Penderitaan adalah cara Tuhan memanggil dalam kerinduan, sedangkan kenikmatan adalah cara Tuhan untuk menguji level manusia.
Ya, sungguh tak disangka dan di luar nalar, masyaallah.
Tahu apa yang kurasa? Sebuah rasa yang sudah lama mengganjal akhirnya terlepas sudah. Rasa damai dengannya dan diri sendiri.
Dan, yang terakhir, bertemu bagai leader yang mengingatkan untuk melaksanakan kewajiban. Ah, kepribadian yang aku berpikir, pasti banyak yang juga mendambakannya. Lagi-lagi harus sadar diri.๐
Intinya, terima saja jika di luar rencana dan ekspektasi indah. Terkadang, terlalu optimis jatuhnya shock dan kecewa, sedangkan sedikit ada rasa pesimis bisa jadi hasilnya malah baik.
Tuhan paham harus memperlakukan kita seperti apa, meskipun kita sering menolak perlakuan-Nya bahkan berburuk sangka.
Bergantung saja kepada Tuhan bukan manusia, kerana kita hidup memang hanya untuk-Nya bukan menyembah manusia.
Allah dekat sedekat urat nadi leher kita.๐ ๐ฑ
Selesai. Terima kasih jika sudah membaca dan semoga ada hikmah yang dapat diambil.
Selasa, 18 Oktober 2022
Parenting: Apa Itu Dewasa ?
Sebenarnya, apa yang membuat seseorang dapat disebut sebagai dewasa? Apakah dari segi pemikiran yang luas, pengendalian emosi, ataukah memanajemen sebuah perasaan terhadap hal apapun yang sedang atau sudah terjadi dalam kehidupan? Ataukah, dapat mengambil keputusan sendiri?
Jika berbicara tentang rasa, bukankah dari sejak anak-anak tanpa sadar manusia sudah memaksakan mereka untuk dapat mengerti keadaan orang tua bahkan sekitarnya?
Yang seharusnya mereka dimengerti malah seakan dituntut untuk mengerti keadaan atau hal yang mereka belum paham "Itu apa?"
Contoh kecil:
Ketika anak melakukan kesalahan dia dimarahi, dibentak, dicubit, dijewer sampai menangis dan menjerit. Terkadang ada juga yang ketika anak jatuh tersandung bola yang disalahkan bola atau orang yang ada di sekitarnya.
Bukankah itu termasuk main lempar sembunyi tangan? Dimana akan terbawa sampai dewasa atau bahkan mungkin berumahtangga. Sebuah kebiasaan buruk yang entah masih kerap kali dilakukan oleh manusia.
Lambat laun, pemikiran akan berubah, entah itu bertambah baik atau buruk, luas atau stagnan karena sesuatu hal. Bersyukur jika si anak dapat menemukan mana yang baik dan benar, mana yang buruk dan salah.
Namun, bukankah hal itu terdengar percuma dalam lingkup keluarga? Terutama orang tua yang dengan pemikiran zaman dulu, belum dapat menerima perubahan zaman.
Ya, ketika anak tahu hal itu salah untuk dilakukan dan menyampaikan pengetahuan si anak, justru dia akan mendapat kemarahan karena sudah sok seakan paling benar.
Mungkin, bukan hanya terjadi pada lingkup keluarga saja, bisa jadi dengan lingkungan sekitar atau dengan para manusia-manusia lain.
Ego dan gengsi, bisa jadi salah satu faktor yang mempengaruhi.
Jadi, sebenarnya apa yang disebut dewasa?
Apakah sudah matang untuk menikah? Ataukah sudah bisa bebas pergi dan pulang malam tanpa harus mendapat izin dari orang tua?
Or what?
Ada tambahan? Tulis di kolom komentar yah✨
Rabu, 03 Agustus 2022
Tuhan, Belum Mengizinkan
Satu hari berkelana menuju sebuah kota, dengan membawa harapan yang semoga saja terjadi.
Menyusun tiga rencana dan pada akhirnya hanya dua yang tercapai. Satunya tidak.
Ya, duka lara terasa, isak tangis mengiringi sepanjang perjalanan. Alih-alih penyesalan, lebih ke merasa bodoh akan tindakan yang telah kulakukan.
Seluruh tubuh merasakan lelah, terlebih hati dan pikiran yang seakan berdebat.
Hati: Aku ingin begini! Tidakkah kau mengerti apa inginku?
Logika: Tidakkah kau sadar tindakanmu ini bodoh! Bagaimana bisa dapat terjadi jika sebelumnya tidak ada kesepakatan, ha! Aku mengerti kesedihanmu meski tidak dapat merasakan, hanya melihat dari caramu berharap. Bukankah membuat tubuhmu lelah dengan sampai sejauh ini? Justru, rencana yang sudah terjadwal tapi malah kau pungkiri terjadi kan? Sedangkan rencana yang kau buat sendiri tanpa ada diskusi kesepakatan yang pasti tidak tercapai.
Sampai, kau membuatku tertutup akan keyakinanmu yang sekadar ingin. Namun, sedikitpun tidak ada penyesalan dariku. Karena, aku juga baru tersadar setelah semua terjadi.
Hati: Kita tidak sepenuhnya bodoh, hanya saja berpikir dan bertindak terlalu cepat saja๐
Terima kasih, untukmu. Karena sudah bertindak menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.
Logika: Terima kasih juga, untukmu. Karena dapat memanajemen dengan baik, sehingga tubuh tidak terlalu hanyut terlalu lama ke dalam lubang kesedihan๐
๐ฑ Terkadang, kita cepat membuat keputusan tanpa ada kematangan. Wajar bila manusia mudah berharap karena adanya keinginan untuk dicapai.
Namun, ia terlupa bahwa semua terjadi atas izin Allah.
Di sisi lain, dalam konteks agama itu termasuk 'ain. Di mana bukan hanya paras saja yang dapat timbul penyakit, melainkan sebuah tujuan, impian, yang ingin dicapai pun dapat sirna begitu saja.
Why?
Karena, semakin banyak telinga yang mengetahui apa tujuan dan harapan kita, kemungkinan kecil dapat terwujud.
So, sampaikanlah kepada yang benar-benar bersangkutan saja, bukan hanya karena ingin didengar dengan rasa kebanggan akan sebuah harapan tersebut.๐ฑ
Semoga lain hari Allah menghendaki๐
Senin, 16 Mei 2022
Tentang Cinta
Tak mudah menyampaikan karena bagai pusaka yang harus benar-benar dijaga.
Mungkin, dari sebagian kita tak sempat menyadari jika ada yang pernah mencintai dengan hati yang tulus, tak peka dengan sikap dan perhatian kecil yang dilakukannya.
Sampai seiring berjalannya waktu telah menjawab bahwa dia mencintaimu, tapi kamu tak pernah mengetahuinya.
Karena sikap egois dan rasa mudah kecewa dalam diri membuat menutup mata akan hal-hal sederhana itu.
Ya, cinta tak mudah dicerna oleh alam logika, hanya dapat dirasakan oleh alam bawah sadar dari sebuah hati.
Siapapun pasti pernah emosi dan berkata kasar kepada pasangan, bahkan tanpa adanya kesadaran diri untuk meminta maaf. Merasa benar, mungkin sehingga berat atau sekadar gengsi melakukan hal itu.
Mudah terlena dan hanyut dalam kenyamanannya, membuat diri terlupa sejenak akan beratnya hidup.
Ya, begitulah cinta dengan beragam sensasi di dalamnya. Konflik dan diskusi.
Sebelum terlambat, sampaikanlah jika memang mencintainya atau sekadar merasa nyaman sebelum terpendam lama karena Tuhan telah memanggilmu.
Bukan hanya cinta, segala macam rasa apapun sampaikanlah. Berhenti menyiksa diri sendiri dengan kebungkaman itu.
Karena ada mulut untuk mengucap, telinga yang siap mendengar, dan hati yang siap menerima serta otak akan mengingatkan kembali, memutar kembali history.
๐
Rabu, 21 Juli 2021
Pejuang Mengantar Kematian
Pagi yang cerah mengiringi langkah ini menuju Posko Dapur Umum Surabaya, yang terletak di daerah kebraon, Surabaya.
Menjumpai rumah Bu Solikhah yang menjadi tempat di mana bantuan dititpkan untuk disebar kepada warga-warga sekitar yang terdampak copid.
Beliau adalah seorang mudin yang menangani pemandian jenazah secara berturut-turut.dalam setiap harinya. Beliau bercerita, bahwa dalam satu hari dapat memandikan jenazah sebanyak empat kali, itu pun bisa lebih. Pernah suatu ketika saat sedang memandikan jenazah sudah ada jenanzah lain yang harus dimandikan saat itu juga, alhasil setelah selesai memandikan yang sebelumnya beliau langsung meluncur ke tempat selanjutnya dengan tanpa jeda untuk sekadar istirahat.
Jika di kampung banyak panggilan untuk pemandian jenazah, lalu apa kabar dengan mayat-mayat di rumah sakit? Yang entah itu memang terkena positif copid ataukah terpapar copid.
Pekerjaan yang terihat sepele dipandang oleh banyak orang belum tentu dapat dilakukan. Karena apa? Karena butuh yang namanya keberanian untuk melakukannya dengan konsisten.
Tak jarang anak beliau memnta dan mengingatkan untuk istirahat, tidak terlalu capek dalam menjalankan tugasnya. Namun, ya bagaimana lagi bila tidak ada yang mau menggantikan tugas beliau di saat sedang banyaknya jenazah yang mengantri.
Pendapatan tak seberapa, sekitar <400.000 yang diterima dalam setiap bulannya.
"Kemampuan secara finansial tidak dapat dibeli ketika ada musibah, karena manusa membutuhkan manusia lain (makhluk sosial)." - Bu Solikhah
๐ฑ Cuplikan kisah nyata dari seorang ibu yang mengemban tugas sebagai pemandi jenazah. Mungkin, sebagian dari kita berpikir itu hal biasa, hal sederhana yang dapat dilakukan oleh banyak orang, tapi tidak jika sudah berhadapan langsung dengan mayat di depan mata kita. Tanpa busana, telanjang dan terlihat beragam warna dengan ada yang pucat, berseri, bahkan membuat bulu kuduk merinding dan tak jarang yang terbayang akan hal itu. Jika dilihat dari segi pendapatan sangat kecil memang tapi jasanya masyaAllah. Allah yang membalasnya di kehidupan kelak.
Ya, apapun pekerjaan maupun aktivitas yang sedang kamu lakukan tetap jalani dan terima dengan rasa ikhlas walaupun aku tahu ... sebenarnya nano-nano rasanya.
Tetap semangat jalani hari-harimu dengan megharap ridho Tuhan.
Ganbatte Kudasai!!!๐ฑ
Selasa, 13 Juli 2021
Cinta Sesaat
Menurut kamu apa itu cinta sesaat ?
Dikutip dari sebuah website:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/30/210000720/3-hal-yang-terjadi-saat-seseorang-jatuh-cinta-?page=3
Kita menyangka bahwa kita benar-benar jatuh cinta padanya, hanya karena berpikir bahwa dia adalah tipe idaman kita.
Tapi, saat kita sedang sibuk dengan pekerjaan, apakah kita masih memikirkannya? Cinta bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan cepat.
Intinya, jika kita bisa fokus untuk memberikan cinta selain pada pekerjaan, sahabat, keluarga dan diri sendiri, berarti perasaan tersebut hanyalah sesaat dan bukan cinta sejati.
*
That's right!
Cinta yang hanya terasa menggebu-gebu di awal, dan kemudian bisa cepat memudar ketika pandangan ataupun keinginan sudah teralihkan oleh hal yang lain.
Bukankah itu yang sering kita alami ?
Melihat dan bertemu seseorang lalu merasakan, wah dia jodohku, aku mencintainya, aku ingin memilikinya. Haha ....
Hanyalah buaian kata yang seketika terucap dari bibir, tapi belum tentu dari hati yang sebenarnya.
Aku pernah mengalami kejadian di mana, aku bertemu banyak laki-laki. Iya, ada yang tinggi di atasku, sepadan denganku, berambut rapi, dan bahkan ada yang acak-acakan (terkadang juga rapi sih kalo tidak lupa pakai sisir, haha!)
Berbadan kurus, sedikit gemuk, kurus sekali, berkulit putih, dan coklat. Kurang lebih seperti itulah mereka, namun tidak ada yang memenuhi kriteria yang benar-benar aku impikan.
Hampir semua kukatakan aku menyukai mereka, padahal itu hanyalah rasa sekelebat mata memandang saja bukan cinta yang benar-benar mencintai.
Ah, mengenang memori lama membuatku belajar dan mengerti apa itu mencintai.
Ini sekedar cerita singkat dari yang kualami dulu, tapi sekarang juga terkadang terulang lagi. Haha!
Maklumlah faktor banyak pertanyaan, "Kapan menikah? Sudah punya pacar belum? Calonnya anak mana nih?" Bla bla bla!
Ya, bukan salah mereka sih bertanya, dan bukan salahku juga untuk menjawab dengan senyuman kecut.
Karena menikah itu untuk jangka panjang bukan jangka pendek, jadi harus dipertimbangkan dengan matang segala kebutuhan di dalamnya.
Jika kamu punya pendapat lain, yuk komen di bawah dan kita bertukar pemikiran✨
Selasa, 18 Mei 2021
Bekel (Berasa Keluarga)
Perjalanan ke gunung itulah caraku mencoba dekat dengan langit dan bermuhasabah diri bahwa betapa kerdilnya diri ini diantara langit dan bumi.
Kenapa tidak naik pesawat, bukankah lebih dekat menembus awan? iya memang terasa lebih dekat jika melalui udara namun ada harga yang harus dibayar dan beratnya proses tak lebih terasa dari perjalanan mendaki.
Sepanjang trek yang ada banyak ditemui bebatuan dan tanjakan, jalanan landai hanyalah beberapa langkah saja selebihnya menaik dan berbatu bahkan cenderung sempit.
Saat itu aku mendaki dalam keadaan "kedatangan tamu hari kedua", memang tidak ada hal mistis parah yang terjadi melainkan yang ada fisik melemah karena trek menanjak kian menanjak yang ada. Kerasnya hentakan kaki yang mengenai bebatuan membuat perut terasa begitu sakit dan kepala yang sedikit pusing akibat hal tersebut.
Tidak ada penyesalan yang terjadi yang ada hanyalah rasa sungguh tidak enak kepada tim karena membuat sering break dan alhasil mengulur waktu sampai di puncak. Disaat aku berkata:
Aku izin dibarisan belakang sendiri boleh?
"Kenapa? kamu perempuan jadi dibarisan tengah, Yang di depan-belakang harus laki-laki. Kalau capek bilang, kita berhenti istirahat terus lanjut lagi. Mendaki itu teman seperti keluarga yang harus saling menjaga dan membackup tim bukan meninggalkan bahkan membiarkan." kata mereka
MasyaaAllah aku terharu mendengarnya๐
Sesampai di atas mereka yang mendirikan tenda dan memasak sedangkan aku dan temanku Fithand membantu menyiapkan bahan dan mengabadikan momen yang ada๐✌
Baru ini mendaki dengan keadaan yang bisa dibilang cukup lemah namun memaksa untuk naik dan bersyukur diberikan teman-teman baru yang membuat spechless akan kekeluargaan mereka. Iya aku merasa bukan hanya puncak tujuan utama melainkan proses kebersamaan untuk mencapai dan menikmati keindahan alam (kebesaran Allah) yang tercipta.
MasyaaAllah, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
๐ฑ Perempuan dalam keadaan "kedatangan tamu" apalagi masih hari 1-3 memang beresiko untuk melakukan aktifitas berat seperti mendaki. Terlebih jika trek yang dilalui banyak tanjakan dan berbatu besar-kecil kerikil. Tidak ada larangan memang (beberapa gunung melarang mungkin) namun alangkah baiknya untuk berpikir ulang untuk ikut karena akan merugikan diri sendiri yang menahan sakit, juga tim yang mereka juga membawa carrier dengan beban berat. Jika memaksa tetap ingin ikut berkatalah jujur kepada tim dan persiapkan obat untuk meminimalisir rasa sakit yang ada serta menjaga imun tubuh agar tidak jatuh ngedrop. Ingat juga untuk membawa sampah turun ke bawah bukan meninggalkan di atas gunung (alam). Karena mendaki bukan untuk mengotori melainkan membantu melestarikan alam dan mentadabburinya. ๐ฑ
Dan aku sangat bersyukur dipertemukan dengan kalian dan mengenal kalian, ada pelajaran dan kenangan yang didapat dari kalian. Semoga dapat mendaki bersama lagi dilain waktu dengan cerita baru tentunya.๐
Salam semesta alam!
Kamis, 22 April 2021
Rumah Hujan
Pernahkah kamu merasakan tidur di bawah butiran-butiran hujan?
Tetes demi tetes berjatuhan, membasahi wajah ketika sedang terlelap dalam balutan selimut
Terlihat jelas bentuk air yang menempel pada dinding atas
Terdengar suara gemericik air menyentuh logam besi "tush.. tush.."
Iya, hampir sepanjang malam setiap kali hujan turun terjadi seperti itu
Jangankan air yang menetes, hampir setiap kali hujan turun dengan deras terdengar jelas hujan di atas genting yang hanya selapis saja, "arrgghh.. suara yang begitu keras sampai membuat telinga ini terasa pengang dan ketakutan akan kebocoran kamar kerap kali datang menghantui dan tidur pun menjadi gusar karenanya."
Tak ada daya untuk membenahi semua kebisingan dan kerisauan itu yang ada hanya menikmati setiap asa yang ada
Waktu terus berputar
Kehidupan terus berlanjut
Hanya dapat berteman dengan semua ketidak nyamanan itu
Yah, apalagi jika bukan untuk merasakan kenyamanan hidup
Di rumah ini
Kamis, 18 Maret 2021
Cerita Kota Angin
Beberapa hari yang lalu longsor telah melanda desa ngetos kota Nganjuk, ada korban yang meinggal dan selamat kembali ke rumah saudara terdekatnya dan ada yang sudah diungsikan ke rumah-rumah yang layak dihuni bagi para pengungsi yang tela kehilangan rumahnya akibar longsor.
Hari yang sudah ditentukan untuk berangkat ke sana telah tiba, bantuan (sederhana) siap didistribusikan, armada dan tim siap untuk berangkat. Bismillah...
Perjalanan terasa amat panjang kenapa? karena ada masalah di dalamnya, dimana yang niatnya memilih jalan cepat yang ada kebingungan didapat. Iya, alhasil menyusuri jalan, berputar, keluar-masuk gerbang yang sama dan pada akhirnya menemukan jalan yang benar.
Adzan dhuhur telah berkumandang pertanda untuk beristirahat sejenak, alhamdulillah ada rest area
"buk harga tehnya berapa? 8.000 mbak tapi saya korting jadi 7.000 saja"
(teman-teman pada berbisik)
"yassalam hmm.. yasudah maklumin aja di pertengahan tol ini" jawabku
Setelah melalui jalan yang panjang alhamdulillah sampai juga di tempat dimana akan dilakukan pembagian pendistribusian.
Kami sempat menengok keadaan dimana longsor itu terjadi, terdapat banyak puing-puing bangunan yang runtuh dan tergusur oleh tanah, hampir keseluruhan tiada yang utuh bangunannya. Keadaan tanah yang masih gembur saat kupijaki dan adanya keretakan akibat pergeseran tanah yang terdapat.
Allah, inikah tanah longsor itu? meluluh-lantahkan bangunan-bangunan disekitarnya, dari atas menurun ke bawah. Puing-puing bangunan tiada yang utuh, tanah yang terasa lunak ketika kaki berpijak, terperosok ke dalamnya seperti tanah hisap yang siap melahap di atasnya. Allah tak kubayangkan jika tinggal di sini dan menjadi salah satu dari korban di dalamnya namun alhamdulillah semua korban telah ditemukan meski harus ada yang ditinggalkan (menuju-Nya). Sungguh hamba lemah tak berdaya tanpa kuasa dari-Mu
Senja mulai terlihat jelas, terangnya sinar matahari mulai meredup dan akhir perjalanan telah selesai
Berpamitan dengan warga di sekitar dan pulang dengan perasaan yang cukup melegakan, amanah telah tersampaikan
Ditengah perjalanan lagi-lagi dihadapkan pada suatu permasalahan, kartu yang susah untuk diakses sampai mencari bantuan untuk meminjam, oh beruntungnya ada perantara Allah yang membantu tanpa mau diganti. MasyaaAllah
Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam kegiatan ini dan maaf untuk sikap salah yang telah kuperbuat.
๐ฑ Sempat berpikir buruk namun pada akhirnya Allah memberi jalan dan semua teratasi dengan tanpa emosi di dalamnya, iya karena tujuan kami sama berangkat-pergi bersama dalam keadaan tak kurang sedikitpun. Permasalahan disetiapniat baik pasti ada namun karena kebersamaan dan frekuensi yang satu tujuan semua menjadi ringan dan terselesaikan, meskipun meninggalkan benak di dalamnya naamun karena semua itu jadi terbitlah cerita ini.๐ ๐ฑ
Tetap semangat berjuang untuk kebajikan selama nafas masih berhembus dan biarlah bumi menjadi saksi jejak akan perjuangan ini.
Minggu, 28 Februari 2021
Senyuman Kota Beriman
Banjir telah melanda sebagian kota Jombang, beberapa diantaranya desa gondangmanis, brangkal, dan pucang simo yang masih terendam, Kami turun untuk implementasi ke wilayah tersebut dan subhanallah benar saja terlihat lautan sawah seperti danau yang tak terlihat sedikitpun kehijauan di dalamnya, iya.. hanya air dengan pantulan langit yang dapat dilihat dari atas sawah tersebut.
Kata seorang warga yang terdampak banjir:
"iya mbak, ini bekas airnya naik setinggi ini (hampir setengah ukuran rumah) jadi maaf kalau masih berantakan."
Terlihat baju-baju yang masih berserakan di dalamnya, tercium bau yang kurang sedap disepanjang rumahnya dan ya sebagaimana kondisi banjir.
Ketika bergeser ke desa sebelah Allahu Akbar aku kaget ketika melihat ada rumah yang dimana di kelilingi oleh air, iya jalanan tak terlihat karena terendam banjir.
Sebuah jalan yang jebol karena derasnya arus air yang menggenang sehingga warga berinisiatif membuat jembatan dari bambu dan anyaman untuk akses jalan antar kedua desa.
Allah aku takut ketika melewati jalan itu, seakan ada rasa tenggelam, jatuh, tidak aman rasanya melewati namun temanku sedikit menenangkanku sembari berkata "tenang mbak, insyaaAllah safety riding"
Memasuki desa Brangkal airnya masih menggenang selutut orang dewasa dan tim harus turun dengan membawa bantuan sembako yang dititipkan dari para donatur. Iya tim jalan menyusuri dari rumah ke rumah untuk memberikan bantuan yang sederhana ini kepada mereka yang memang sangat membutuhkan.
Dengan berjalan perlahan, hati-hati, pakaian yang basah, hingga terjatuh karena ada selokan kecil di bawah yang tak terlihat, sampai motor yang ambruk karena tanah yang berlempung.
MasyaaAllah aku yang ikut serta turun di dalamnya merasa terenyuh akan keadaan di sini namun merasa bahagia ketika melihat anak-anak kecil yang dengan keceriaannya bermain berenang di air bahkan di sungai yang airnya hampir mendekati atas jembatan.
Gagal panen pun dirasakan oleh para petani, bagaimana tidak semua sawah terendam dan tidak ada sisa yang dapat dipanen dan dijual. Namun disisi lain mereka memanfaatkan sawah yang kebanjiran dengan aktifitas memancing. Iya, memancing dan mendapat ikan, dan terlihat juga anak-anak ikut memancing di sawah๐ MasyaaAllah..
๐ฑ Dari sini aku belajar dikala musibah mendera namun hati dan pikiran jangan sampai meresah. Menyerah dengan keadaan bahkan sampai mengeluh tiada hentinya untuk apa? Bukankah kesia-siaan yang hampa tanpa adanya tindakan?
Aku tak dapat membayangkan jika melanda kota pahlawanku, daerah rumahku mungkin aku akan sedih, menangis, meronta merasakan semua ini.
Dari sini aku belajar semua akan kembali pada waktunya, semua yang ada di dunia hanya titipan bukanlah bersifat permanen yang sah menjadi hak milik manusia.
Bukan hanya banjr melainkan musibah apapun adalah atas izin Allah dan sudah seharusnya kita kembali hanya kepada Allah.
Semoga semua yang terdampak maupun keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan hati dan kekuatan tubuh untuk berdiri melanjutkan langkahnya. ๐ฑ
Tentang Prasangka
Selasa, 02 Februari 2021
PTN (Pedagang Tanpa Ngemis)
Langit cerah berawan dengan desiran warna biru dan putih yang saling bercampur menjadi satu
Hari yang cerah dengan benderangnya sinar mentari mengiringi perjalanan kami, untuk memberikan sedikit rejeki yang ada untuk mereka yang sebelumnya sudah ditentukan bersama
MasyaaAllah beragam cerita yang dapat diulas dari mereka, kisah hidup yang harus berjuang untuk memenuhi ekonomi keluarga demi menyambung kehidupan. Ada seorang anak yang sampai putus sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan sehingga ia berjualan es lilin setiap pagi dan itupun tidak selalu habis terkadang pulang dengan keadaan terisak karena tak ada satupun es lilin yang terjual.
Ada juga seorang bapak penjual es cao yang mendorong gerobak setiap hari menjajakan jualannya, "iya mbak kalau hujan jualannya hanya disini di depan Smkn 6, jadi bisa berteduh di halte ini. Rumah saya di belakang sekolah ini mbak, belakangnya rumah bu Rw." kata bapaknya ketika kami bertanya. Apa kamu tau jarak dari tempat dimana beliau mangkal hingga ke rumahnya berapa meter? Lumayan jauh kalo untuk jalan kaki mengingat kondisi bapaknya yang sudah lumayan sepuh. MasyaaAllah namun ketika melihat beliau tersenyum hati ini bergetar seakan ada kebersyukuran dalam diri dan malu akan diri sendiri yang masih mengeluh akan apa yang Engkau beri selama ini.
Ada juga seorang bapak penjual es wawan yang setiap hari memanggul dua kotak es wawan depan dan belakang dari Krian naik bus menuju Surabaya, berjalan dan berkeliling menjajakan es wawannya. Berangkat pagi petang hingga kembali malam hari, namun apa selalu habis dagangannya itu? tentu tidak, mengingat sekarang masih musim dingin bahkan curah hujan pun tinggi jadi siapa yang mau beli es dicuaca yang dingin ini? Jika bukan atas izin Allah, ada banyak jalan untuk datangnya rejeki yang halal.
Di atas masih sepenggal cerita kehidupan dari sekian banyak target yang telah ditentukan dari kegiatan PSBB (Pemuda Surabaya Bagi-Bagi) ini. Bisa kepoin IG: @mrisurabaya
๐ฑ Oh Allah masih ada sekian banyak yang lebih membutuhkan uluran tangan-Mu, membutuhkan belas kasih dari-Mu. Jika mereka saja dapat berjuang dan tersenyum menghadapi kehidupan yang sulit ini, bahkan dimasa pandemi yang belum ada kejelasan kapan berakhirnya, seharusnya diri ini yang masih lebih muda dan kuat dibanding mereka harusnya jauh lebih bisa dan semangat untuk terus dan tetap berjuang, berproses, dan bertumbuh-kembang dalam kehidupan. Sesulit apapun, sejatuh apapun semua akan terasa mudah bila berpegang teguh hanya pada-Mu (Allah).๐ฑ
Kalo kamu apa yang didapat dari cerita di atas? hmm.. bisa komen di bawah atau jawab dalam hati aja yah๐
Rabu, 30 Desember 2020
Terima Kasih 2020
Banyak sekali kejadian yang terjadi selama 2020 ini, dimulai dari awal tahun ini.
Iya aku ingat hari Rabu bulan Januari, dimana handphoneku rusak karena kecerobohan diri sendiri, niatnya bersenang-senang diakhir tahun 2019 namun kembali ke Surabaya membawa duka. Singkat cerita alhamdulillah sudah mempunyai handphone baru A9 2020 daengan cerita berat di dalamnya.
Memasuki bulan Maret terdengar akan diberlakukan PSBB masa pandemic covid-19 dan yah.. diberhentikan dari tempat kerja tentunya dengan gaji 1 bulan penuh. Alhamdulillah syukuri saja
Bulan dimana dengan kegiatan yang baru masuk ke dunia relawan, turun langsung ke masyarakat, membantu memberi bantuan meski tak banyak namun terlihat senyum indah terlukis diwajah mereka membuat hati dan tubuh ini gemetar seakan berkata "masyaaAllah begini rasanya membantu, yang dulunya sering dibantu sekarang aku yang ikut membantu. Allah Maha Baik dan Bijaksana."
Kehilangan barang setelah pendakian dan membuat insecure di dalamnya, kenapa? karena itu bukan milikku dan menyalahkan diri sendiri pun terjadi. Singkat cerita masalah selesai dengan mengganti sesuai nominal yang diinginkan (pemilik).
Singgah ke Masjid Namirah Lamongan yang sudah lama ingin kukunjungi karena megahnya Masjid itu, kalau malam berkilau bak cahaya Ka'bah yang membuatku rindu untuk menghampirinya.
Mengikuti kelas desain dan sertifikat Nasional iya, masih nasional belum internasional tapi berkarya tidak harus bersertifikat, so, terus berkarya! Bebarengan dengan keteledoran diri yang menguras saldo atmku tanpa kucermati terlebih dahulu. Menimbulkan bekas dan masalah di dalamnya, iya, karena panik ganti semua password akun, hapus akun, ganti nomer, pisah nomer, reset ulang hape, dan yang terberat ketika menghilang dari beberapa akun media sosial tanpa konfirmasi. Ya Allah.. Singkat cerita masalah selesai namun untuk grup-grup yang telah keluar tanpa konfirmasi minta maaf untuk hal itu karena memang waktu itu tidak dapat mengakses akun sehingga tidak dapat menghubungi (kontak) siapapun.
Disaatt setelah itu aku teringat akan sebuah janji untuk mengantar teman-teman ke pendakian, terkesan mendadak sekali memang keputusanku untuk berangkat dan persiapan baru dilakukan malam itu, mana posisi lagi dapet pertama๐ . Singkat cerita akhirnya sudah terlaksana tanggung jawab untuk memenuhi janjiku pada mereka, maafin yah untuk salahku baik itu sebelum dan sesudah pendakian ๐
Diminta untuk menjadi dokumentasi suatu acara yang sakral (pernikahan), cuman pakai hape doang sih dan hasilpun belum maksimal, maklum low budget
Peluang freelance dengan harga yang lumayan dalam 10 hari dan alhamdulillah hampir mencapai achieve yang kutulis dibuku.
Dapat email dari Youtube Creators, alhamdulillah hwa.. senangnya eh tapi sadar masih awal belum ketengah๐
Masih banyak sebenarnya cerita di tahun 2020 ini namun yang tertulis pada buku dan teringat dalam memori pikiran ya itu (di atas).
๐ฑ๐ฑ๐ฑ
Pelajaran yang kudapat dari semua kejadian itu, yaitu
1. Niat awal menentukan hasil dari tindakan yang diperbuat
2. Tulis dan tanam dalam pikiran serta keyakinan yang kuat apa yang ingin dicapai
3. Lebih berhati-hati terhadap apapun dan siapapun, berprasangka baik itu harus namun berprasangka buruk untuk mawas diri itu juga perlu. Tapi bukan berarti menilai semua orang itu sama, jadi jeli dan bijak dalam menganalisa
4. Kontrol nafsu untuk tidak mudah tergiur akan hadiah yang belum pasti ada (wujudnya)
5. Menjaga dan bertanggung jawab meskipun bukan milik pribadi, ingat amanah itu berat
6. Dan yang terakhir kemana dan dimanapun dengan siapapun ingat selalu Allah (Tuhan-ku) dan membaca sholawat serta menunaikan ibadah wajib tanpa meninggalkan dengan sengaja.
Hmm.. Sudah cukup atau kurang banyak? ๐ sudah itu saja yah.
Rabu, 16 Desember 2020
Perjuangan Pendidikan
Rabu, 25 November 2020
Perhatikan Langkahmu
Kita tidak tau apa yang akan terjadi di bawah dan apa yang ada di bawah. Alih-alih salah pijak yang ada terperosok ke bawahnya.
Suatu ketika, aku turun ke sebuah sungai yang awalnya terlihat sepele dan "ah pasti pendek ini mah" namun benar pendek di pinggiran dan dalam di tengah. Aku tertinggal karena merasa ragu untuk turun dengan sebab tertentu namun yakinkan diri untuk turun. Ketika sampai di pertengahan sungai aku ragu akan berpijak ke batu yang mana karena begitu buram air sungainya sehingga tak terlihat jelas di dalamnya. Terlihat ada sebuah lubang di sisi kananku dan teman berkata "naik ranting pohon ini dan injak batu, disitu dalam hati-hati" sedikit ragu ketika melangkah dan benar saja aku naik ke atas ranting pohon itu, menginjak batu di sisi kanan dan terperosok ke bawah, sontak cari pijakan batu yang lain dan terperosok kembali. Pada akhirnya barang yang kubawa pun tenggelam. Singkat cerita aku selamat meskipun dalam keadaan gemetar dan kaget.
_Tubuhku yang gemetar, pakaianku yang basah, serta barangku yang terkena sungai. Kaget rasanya akan kejadian itu, ketakutan akan tenggelam di dalamnya dan tak dapat kembali ke daratan. Uh.. iya, aku yang tidak bisa berenang dan ada hal-hal yang terngiang ketika melihat arus deras dalam pikiran. Semua berkecamuk dalam kepala dan badan._
Pada akhirnya semua telah selesai dengan meninggalkan pelajaran di dalamnya untuk lebih menjaga keamanan diri ke depannya.
Alhamdulillah.
๐ฑ Apa yang terlihat belum tentu sebenarnya, apa yang dipikir sepele bisa jadi menakutkan. Jika memang keraguan muncul alangkah baiknya tenangkan diri terlebih dahulu dan berdoa. Jika masih sangat ragu maka jangan diteruskan, ganti dengan apa yang kamu yakini. Namun adakalanya ketakutan (memang) harus dilawan dengan keberanian dan perkiraan yang matang.
Jangan sampai keberanian membuat menyusahkan diri sendiri dan orang sekitar.๐ฑ








